Senin, 19 September 2011

Karya Ilmiah Penanggulangan Bencana Banjir


PENANGGULANGAN BANJIR DENGAN CARA PEMBANGUNAN STRUKTURAL 
DAN NON-STRUKTURAL



BAB I
PENDAHULUAN


1.1.      Latar Belakang
Indonesia adalah sebuah negara perairan dengan ribuan sungai dan  ratusan laut di dalamnya. Lebih dari 500 sungai tersebut berpotensi besar menimbulkan banjir. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi negara yang sangat rawan banjir. Namun pada dasarnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, yaitu: peristiwa alam, kerusakan sistem drainase dan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia.
Banjir tidak hanya memberikan dampak yang buruk pada lingkungan, tapi juga terhadap kesehatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Terlebih lagi banjir menelan banyak korban jiwa dan menghancurkan banyak fasilitas umum. Masyarakat dan pemerintah mendapat kerugian besar atas bencana ini. Masalah ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Pencegahan-pencegahan harus segera dilakukan sebelum masalah ini menyebabkan kerugian lain yang lebih besar. Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama melakukan pencegahan dini. Tidak cukup dengan perbaikan struktural saja, perbaikan non-struktural pun harus dilakukan. Keduanya harus dilakukan secara seimbang dan saling melengkapi. Hal inilah yang membuat upaya-upaya pemerintah dalam penganggulangan banjir terus menuai kritik, karena tebukti gagal. Selama ini pemerintah hanya terus mengutamakan pembangunan struktural saja tanpa memperdulikan pembangunan non-struktural. Pemerintah juga harus melakukan pendekatan non-struktural. Karena kedua pendekatan tersebut harus berjalan dengan seimbang.
Pemerintah harus melakukan pendekatan struktural seperti pembenahan saluran-saluran permukaan dan pembenahan kolam-kolam retensi yang tidak tidak berfungsi secara maksimal. Sedangkan masyarakat harus mulai dari perbaikan moral dan menumbuhkan kesadaran diri sendiri akan lingkungan. Mulai dari menjaga kebersihan, membuat resapan dari limbah rumah tangga dan membuat sumur resapan kecil. Hal-hal kecil inilah yang akan membuat perubahan besar. Lingkungan akan kembali seperti dulu jika langkah-langkah ini dilaksanakan. Satu kemenangan pun bisa kita dapatkan karena telah berhasil membuat sebuah perubahan.

1.2.      Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, didapat bahwa pembangunan struktural dan non-struktural harus berjalan seimbang dalam menanggulangi banjir. Didapat sebuah pertanyaan besar “Bagaimana cara mencegah banjir dengan cara pembangunan fisik dan non fisik?” Tulisan inilah jawaban yang dianggap penulis tepat untuk pertanyaan tersebut. Langkah-langkah yang akan dibahas dalam tulisan ini guna menjadi solusi yang tepat, antara lain:
1.      Pembuatan Biopori, komposisi, fungsi dan penggunaannya.
2.      Pembuatan Sumur Resapan, skema serta penerapannya.
3.      Pembenahan saluran-saluran permukaan
4.      Pembuatan Kolam Retensi dan fungsinya.
5.      Mengubah prilaku, pola pikir serta budaya masyarakat.


1.3.      Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dan manfaat yang diharapkan dari upaya-upaya yang dilakukan dalam pencegahan banjir dalam tulisan ini, antara lain:
1.      Mencegah terjadinya banjir atau setidaknya mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan seandainya terjadi.
2.      Pembenahan infrastruktur kota dalam hal system drainase.
3.      Menyeimbangkan neraca hidrologi.
4.      Membuat lingkungan kembali nyaman dan sehat.



BAB II
TELAAH PUSTAKA


2.1.     Jenis-jenis Banjir
Banjir adalah tergenang dan terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat. Hal ini disebabkan oleh peristiwa alam ataupun oleh ulah manusia.
2.1.1.      Banjir (air)
Banjir ini diakibatkan meluapnya air sungai, got, gorong-gorong atau saluran air lainnya karena debit atau jumlah air melebihi kapasitas saluran air yang ada. Luapan air tersebut bahkan dapat sangat berbahaya dan tingginya dapat melampui atap sebuah rumah.
2.1.2.      Banjir Cileuncang
Di daerah bandung dan sekitarnya ada istilah “banjir cileuncang” atau banjir dadakan. Banjir ini terjadi jika air yang dihasilkan dari hujan lebat tidak dapat segera dibuang melalui saluran air/drainase/gorong-gorong/got yang ada disamping jalan. Analogi yang tepat untuk hal ini adalah ketika anda mengisi air/minyak menggunakan corong, maka kadang akan terlihat air/minyak yang anda isikan akan dapat naik sampai ke bibir corong walaupun akhirnya air/minyak tersebut akan habis masuk ke dalam saluran corong.
2.1.3.      Banjir Pasang Laut (Rob)
Rob merupakan banjir akibat laut pasang yang sangat tinggi. Karena terlalu tingginya pasang air laut tersebut, air yang berasal dari sungai seakan-akan akan tertahan dan mengikuti tingginya permukaan air laut. Air akan meluap bila tingginya melebihi tinggi sisi sungai atau tanggul dari sungai. Banjir ini umumnya terjadi di Jakarta. Selain karena dampak pemanasan global, juga akibat menurunnya permukaan tanah di Jakarta secara umum.
2.1.4.      Banjir Bandang
Banjir bandang merupakan banjir yang terdiri dari campuran air dan lumpur / tanah. Banjir ini lebih berbahaya daripada banjir biasa. untuk ketinggian banjir yang sama, banjir bandang memiliki efek menghancurkan dan menghanyutkan yang lebih besar. Sehingga tidak jarang banjir bandang ini selain membawa lumpur, juga membawa muatan bahan-bahan atau barang-barang dari daerah yang telah dilalui sebelumnya, seperti kayu, batu, pohon, rumah dan lain sebagainya. Sehingga efek menghancurkannya pun akan menjadi lebih besar lagi. Seorang ahli renang pun dapat tenggelam dalam banjir bandang.

2.2.    Faktor-Faktor Terjadinya Banjir
Banjir merupakan suatu bencana yang tidak bisa kita hindari. Banjir bisa terjadi dimana saja, baik di tempat yang tinggi maupun di tempat yang rendah. Terdapat dua fakor yang menyebakan terjadinya banjir, yaitu faktor alam dan faktor campur tangan manusia.
2.2.1.      Faktor Alam
Pada dasarnya faktor utama terjadinya banjir adalah curah hujan yang tinggi. Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi (mm) di atas permukaan horizontal bila tidak terjadi evaporsi, run off dan infiltrasi.
Intensitas curah hujan ditentukan oleh perubahan pada pola iklim. Namun, pola iklim sudah tidak berjalan normal lagi. Banyak peristiwa-peristiwa alam yang tercipta karena siklus alam ataupun karena ulah-ulah manusia yang mempengaruhi pola iklim. Peristiwa tersebut antara lain pemanasan global, fenomena La Nina dan MJO (Madden-Julian Oscillation). Peristiwa inilah yang menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan di atas normal. Curah hujan yang berintensitas sangat tinggi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Hal ini menyebabkan jaringan drainase kelebihan volume air dari batas tampungnya dan membuat beberapa sungai meluap. Air tersebut menggenangi daratan dan mulai menghancurkan permukaan-permukaan jalan. Ini adalah awal dari peristiwa terjadinya banjir.
Jumlah curah hujan merata sebesar 2000-3600 mm di Indonesia sepanjang tahunnya. Jika terkonsentrasi 2-3 bulan secara terus menerus maka energi kinektiknya akan menimbulkan penghancuran tanah yang selanjutnya akan terangkut atau hanyut ke sungai. Jika daya angkut lebuh kecil dari total tanah yang dihancurkan maka akan terjadi pengendapan (Hardjowigeno, 1992). Pengendapan-pengendapan tersebut menjadi salah satu hal yang menyebabkan sungai menjadi dangkal, sehingga mengurangi kapasitas penampungan air hujan.
2.2.2.      Faktor Campur Tangan Manusia
Selain peristiwa alam, campur tangan manusia juga menjadi salah satu faktor yang besar menyebabkan banjir. Baik pemerintah maupun masyarakat semua bertanggung jawab untuk hal ini. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
1.      Tata letak kota yang mengabaikan keseimbangan alam.
Aktivitas tata guna lahan dengan tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Kegiatan tersebut merusak hutan dan pemadatan tanah sehingga mempengaruhi kemampuan tanah dalam meloloskan air yang mempercepat proses terjadinya banjir.
2.      Kurangnya lahan resapan air.
Lahan yang semula digunakan untuk daerah resapan air, sekarang dibangun rumah tinggal/ pertokoan/ perkantoran/ pabrik yang kurang menyediakan saluran air. Semakin banyak permukiman yang dibangun berarti semakin banyak daerah resapan yang hilang, maka semakin besar pula potensi mengalami banjir.
3.      Kegagalan mengelola atau mengatur system-sistem drainase
Sebenarnya kegagalan bukan terjadi pada saat mengatur system-sistem tersebut, melainkan kesalahan pada saat perancangan. Banyak system-sistem drainase dibuat tidak sesuai dengan kontur yang ada sehingga aliran air tidak berfungsi sesuai yang direncanakan.
4.      Pembangunan rumah di bantaran sungai.
Pembangunan rumah-rumah tersebut membuat penyempitan badan sungai. Pembangunan ini tidak melihat dampak yang ditimbulkannya akan sangat merugikan mulai dari lingkungan sampai ke perekonomian.
5.   Kurangnya kesadaran masyarakat.
Prilaku dan kebiasaan masyarakat sulit sekali diubah. Masyarakat sudah terbiasa membuang sampah dan limbah rumah tangga ke aliran sungai. Sehingga sampah tersebut menyebabkan sungai menjadi dangkal dan sampah tersebut mnyumbat dan menghambat aliran air.


6.      Penebangan pohon di hutan.
Penebangan pohon di hutan menyebabkan kurangnya kekuatan tanah dalam menahan air dan merusak neraca hidrologi.
2.3.    Dampak-dampak yang Diakibatkan Banjir
Banjir yang melanda Indonesia meiliki dampak yang sangat besar beagi kehidupan masyarakat. Kejadian ini tidak hanya mempengaruhi aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam kesejahteraan rakyat di semua elemen masyarakat, diantaranya:
1.      Seorang investor akan berfikir dua kali untuk merealisasikan investasinya di daerah yang rawan bencana. Banyak investor yang akan lari ke luar negeri dan tentu saja beberapa perindustrian akan mati. Tentu saja hal ini akan sangat menghambat jalannya perekonomian.
2.      Menghambat akses transportasi, baik darat maupun udara.
3.      Ancaman wabah penyakit pasca banjir. Banyak bakteri, virus, parasit dan bibit penyakit lainnya yang tersebar bersama banjir.
4.      Ancaman gizi penduduk yang tempat tinggalnya terkena bencana banjir. Korban tidak akan bias melanjutkan hidup selayak sebelumnya tanpa bantuan dari para donator.
5.      bertambahnya angka kemiskinan di Indonesia.

2.4.    Kerugian Akibat Banjir
Tidak ada sesuatu yang baik dari banjir yang bisa kita dapatkan, hanya sesuatu yang buruk. Hanya ada satu kata yang tepat menggambarkannya yaitu “Kerugian”. Begitu banyak kerugian yang harus ditanggung baik materi dan non-materi. Penulis memberikan beberapa contoh kejadian banjir dan betapa besar kerugian yang ditimbulkannya.


2.4.1.      Banjir di Jawa Barat
Total kerugian akibat bencana banjir di Kab. Bandung dan Kab. Karawang beberapa waktu lalu mencapai Rp 60 miliar. Tingginya nilai kerugian tersebut disebabkan oleh banyaknya rumah warga yang mengalami kerusakan. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, kerugian akibat bencana banjir di Kab. Bandung mencapai Rp 40 miliar dan Rp 20 miliar di Kab. Karawang. Sedangkan bantuan yang mengalir untuk korban banjir di dua daerah itu hanya sekitar Rp 20 miliar, yakni Rp 10 miliar dana on call BPBD Jabar dan sisanya dari sumbangan para pengusaha serta perbankan yang ada di Jabar.
2.4.2.      Banjir di Sumatera 2009
Perkiraan total kerugian langsung akibat banjir yang melanda Pulau Sumatera sejak bulan Maret hingga November 2008 mencapai Rp500 miliar per tahun. Diperlukan sebuah usaha bahu-membahu untuk mendorong pemerintah segera melakukan restorasi kawasan ekologi genting. Usaha-usaha tersebut sangat diperlukan agar lingkungan yang telah rusak cepat pulih dan bencana dapat dikurangi.
Sejak bulan Maret 2008 telah terjadi 34 kali banjir di Sumatera. Di provinsi Aceh terjadi lima kali banjir yang meliputi Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Singkil, dan Aceh Tenggara. Sedangkan di propinsi Sumatera Utara, banjir terjadi sebanyak sembilan kali meliputi delapan kabupaten/kota. Intensitas tertinggi melanda Kabupaten Asahan sebanyak tiga kali dan Kabupaten Batubara dua kali.
Di provinsi Riau banjir terjadi lima kali. Intensitas tertinggi melanda Kota Pekan Baru yaitu sebanyak tiga kali, sedangkan kabupaten yang juga terkena banjir adalah Rokan Hilir dan Dumai.  Sedangkan di Lampung dalam satu tahun ini telah dilanda lima kali banjir dengan intensitas tertinggi terdapat di kota Bandar Lampung sebanyak dua kali. Sumatera Utara, Aceh, Riau dan lampung merupakan provinsi yang paling sering dilanda banjir dan provinsi-provinsi tersebut juga merupakan provinsi yang meliki sumber daya hutan terluas di Indonesia.
2.4.3.      Banjir di Jakarta 2007
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mengumumkan, nilai kerusakan dan kerugian akibat banjir di Jakarta dan sekitarnya pada awal bulan ini ditaksir mencapai Rp 8,8 triliun. Kerugian itu terdiri, Rp 5,2 triliun kerugian ekonomi langsung dan Rp 3,6 triliun kerugian tak langsung. Kerugian langsung menimpa aset milik swasta senilai Rp 4,5 triliun dan aset milik pemerintah Rp 650 miliar. Kerugian tidak langsung dialami sektor usaha dan asuransi.
Penghitungan kerugian itu dilakukan pada 5-15 Februari oleh Tim Bappenas dengan bantuan teknis United Nations Development Program (UNDP). Metode yang digunakan dari ECLAC (UN-Economic Commision for Latin Amerika and Caribbean/ Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin dan Negara-negara Karibia). Metode itu sudah umum digunakan internasional. Komponen yang dinilai mencakup sektor perumahan, infrastruktur, sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup, pemerintah dan keuangan perbankan.



BAB III
METODE PENULISAN


Kegiatan kajian literatur dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan informasi tentang penyebab banjir, kerugian yang diakibatkan banjir dan upaya-upaya yang telah dilakukan dalam penanggungan bencana ini. Selain kajian literatur, dilakukan juga kegiatan survei aliran-aliran drainase dan beberapa sarana penanggualangan banjir di kota Palembang, kota tempat penulis berdomisili.
Dari kegiatan tersebut, diperoleh data tentang penyebab-penyebab terjadinya banjir di Indonesia, kendala dalam pelaksanaan kebijakan dan kesalahan perencanaan saluran drainase di Indonesia. Hasil kajian literatur tersebut menjadi dasar dalam perencanaan penanggulangan banjir dengan pembenahan struktural dan pendekatan non-struktural.
Kajian dilakukan secara nasional dengan lebih memfokuskan pada beberapa kota sebagai kajian utama, yaitu:
  1. Palembang (Sumatera Selatan), kota tempat penulis berdomisili.
  2. DKI Jakarta, ibukota Indonesia namun menjadi salah satu kota yang sangat rawan bencana banjir.
  3. Bandung, salah satu kota yang mempunyai system drainase peninggalan Belanda.



BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS


Banyak upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam menanggulangi banjir. Berbagai aspek menjadi landasan dalam perencanan-perencanaan tersebut. Tapi semua usaha tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Karena selama ini, pemerintah hanya memikirkan pemecahan masalah dengan cara pembangunan fisik (struktural) saja tanpa memperdulikan aspek non-fisiknya. Upaya-upaya pembangunan fisik itu pun mengabaikan peran alam sebagai induk dari semua permasalahan bencana ini. Maka diperlukan keseimbangan dari semua itu dalam menyelesaikan masalah kita bersama ini.

4.1.      Pembangunan Struktural
Penanggulangan banjir dengan cara pembangunan struktural adalah dengan cara pembuatan infrastruktur berupa sistem drainase. Pembuatan sistem drainase melingkupi pembuatan biopori, pembuatan sumur resapan, pembenahan saluran drainase dan pembuatan kolam retensi.
4.1.1.      Pembuatan Biopori
Salah satu cara penanggulangan banjir adalah pembuatan biopori. Biopori adalah lubang dengan diameter 10-30 cm dengan panjang 30-100 cm yang ditutupi sampah organic yang berfungsi menjebak air yang mengalir di sekitarnya. Pembuatan biopori merupakan salah satu solusi yang sangat tepat dengan masalah di Indonesia. Karena cara ini bisa dilakukan oleh semua golongan masyarakat. Ini adalah solusi yang tepat guna karena pembuatan biopori tidak memerlukan biaya yang mahal dan tempat yang luas.


A.    Fungsi dan Manfaat Biopori
1.      Meningkatkan Daya Resapan Air
Kehadiran lubang resapan biopori secara langsung akan menambah bidang resapan air, setidaknya sebesar luas kolom/dinding lubang. Sebagai contoh bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm dan dalam 100 cm maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3140 cm2 atau hampir 1/3 m2. Dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula mempunyai bidang resapan 78.5 cm2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm2.
Dengan adanya aktivitas fauna tanah pada lubang resapan maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. Oleh karena itu bidang resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya dalam meresapkan air. Dengan demikian kombinasi antara luas bidang resapan dengan kehadiran biopori secara bersama-sama akan meningkatkan kemampuan dalam meresapkan air.
2.      Mengubah Sampah Organik Menjadi Kompos
Lubang resapan biopori "diaktifkan" dengan memberikan sampah organik kedalamnya. Sampah ini akan dijadikan sebagai sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekompoisi ini dikenal sebagai kompos. Dengan melalui proses seperti itu maka lubang resapan biopori selain berfungsi sebagai bidang peresap air juga sekaligus berfungsi sebagai "pabrik" pembuat kompos. Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias, sayuran dan jenis tanaman lainnya. Bagi mereka yang senang dengan budidaya tanaman/sayuran organik maka kompos dari LRB (Lubang Resapan Biopori) adalah alternatif yang dapat digunakan sebagai pupuk sayurannya.
3.      Memaksimalkan Peran dan Aktivitas Flora dan Fauna Tanah
Lubang Resapan Biopori diaktikan oleh organisme tanah, khususnya fauna tanah dan perakaran tanaman. Aktivitas merekalah yang selanjutnya akan menciptakan rongga-rongga atau liang-liang di dalam tanah yang akan dijadikan "saluran" air untuk meresap ke dalam tubuh tanah. Dengan memanfaatkan aktivitas mereka maka rongga-rongga atau liang-liang tersebut akan senantiasa terpelihara dan terjaga keberadaannya sehingga kemampuan peresapannya akan tetap terjaga tanpa campur tangan langsung dari manusia untuk pemeliharaannya. Hal ini tentunya akan sangat menghemat tenaga dan biaya. Kewajiban faktor manusia dalam hal ini adalah memberikan pakan kepada mereka berupa sampah organik pada periode tertentu. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan menjadi humus dan tubuh biota dalam tanah, tidak cepat diemisikan ke atmosfir sebagai gas rumah kaca; berarti mengurangi pemanasan global dan memelihara biodiversitas dalam tanah.
 
B.    Komposisi Biopori
C.    Cara Pembuatan Biopori
1.      Membuat lubang silindris di tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman 30-100 cm serta jarak antar lubang 50-100 cm.
2.      Mulut lubang dapat dikuatkan dengan semen setebal 2 cm dan lebar 2-3 centimeter serta diberikan pengaman agar tidak ada anak kecil atau orang yang terperosok.
3.      Lubang diisi dengan sampah organik seperti daun, sampah dapur, ranting pohon, sampah makanan dapur non kimia, dsb. Sampah dalam lubang akan menyusut sehingga perlu diisi kembali dan di akhir musim kemarau dapat dikuras sebagai pupuk kompos alami.
4.      Jumlah lubang biopori yang ada sebaiknya dihitung berdasarkan besar kecil hujan, laju resapan air dan wilayah yang tidak meresap air dengan rumus = intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap air (meter persegi) / laju resapan air perlubang (liter / jam).

4.1.1.      Pembuatan Sumur Resapan
Sumur resapan adalah sumur yang dibuat untuk membantu penyerapan air ke dalam tanah. Sumur ini sifatnya dangkal, berada diatas muka air tanah. Fungsi sumur ini adalah untuk mengembalikan siklus air sesuai dengan alamnya dan membantu air hujan meresap ke dalam tanah, sehingga mencegah banjir (Hanna, 2008).
A.    Pihak-pihak yang Wajib Membuat Sumur Resapan
·   Setiap pemohon IMB.
·   Setiap bangunan yang telah berdiri dan belum mempunyai sumur resapan.
·   Setiap bangunan yang menutup permukaan tanah
·   Setiap pengguna sumur dalam.
·   Setiap bangunan berpondasi tiang pancang.
·   Setiap pemanfaatan air tanah lebih dari 40 m.
·   Setiap industri yang memanfaatkan air tanah permukaan.
·   Setiap pengembang yang memanfaatkan lahan lebih dari 5000 m2, wajib menyediakan 1% dari lahannya untuk kolam resapan diluar perhitungan sumur resapan.
B.     Syarat-syarat Pembuatan Sumur Resapan
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk lahan pekarangan, persyaratan umum yang harus dipenuhi ialah :
1.      Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam, atau labil.
2.      Sumur resapan  juga dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum lima meter diukur dari tepi), dan berjarak minimum satu meter dari pondasi bangunan.
3.      Bentuk sumur itu sendiri boleh bundar atau persegi empat, sesuai selera. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah.
4.      Air yang masuk ke dalam tanah adalah air yang tidak tercemar
5.      Harus memperhatikan peraturan daerah setempat.
6.      Hal-hal yang tidak memenuhi ketentuan ini harus disetujui instansi yang berwenang.
C.    Tujuan dan Manfaat Pembuatan Sumur Resapan
Tujuan dibuatnya sumur resapan antara lain:
1.      Menurunkan laju aliran permukaan (run-off).
2.      Meningkatkan infiltrasi.
3.      Mengurangi evoporasi.
4.      Penyeimbang neraca hidrologi.
Sedangkan manfaat yang didapat dari pembuatan sumur resapan, antara lain:
1.      meningkatkan ketersediaan air daerah di bawahnya.
2.      Mengurangi resiko kekeringan di musim kemarau dan bahaya banjir di musim penghujan.
3.      Menyeimbangkan neraca hidrologi agar rasio perbedaan antara musim hujan dan kemarau tidak terlalu tajam.
4.      Meningkatkan resapan air ke dalam tanah (infiltrasi).

4.1.1.      Pembenahan Saluran Drainase
Saluran drainase adalah saluran-saluran berbentuk persegi atau trapesium yang berfungsi mengalirkan/menyalurkan air limbah dan air hujan ke tempat penampungannya. Salah satu faktor utama penyebab banjir di Indonesia adalah buruknya penanganan masalah drainase kota, khususnya saluran permukaan. Banyak saluran-saluran drainase di kota-kota besar yang tidak berfungsi secara maksimal. Bahkan saluran drainase yang awalnya difungsikan untuk menaggulangi banjir inilah yang menjadi salah satu penyebab banjir. Faktor-faktor yang menyebabkannya, antara lain:
1.      Elevasi permukaan dan saluran drainase yang tidak sesuai. Permukaaan saluran lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga proses pengaliran pun berlawanan dari rencana.
2.      Arah aliran saluran drainase tidak sesuai dengan arah aliran sungai.
3.      Terjadinya ketidaksinambungan jaringan antara drainase lama dan drainase baru.
4.      Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, karena sampah-sampah tersebutlah yang membuat saluran drainase tersumbat. Sehingga membuat air-air di dalam saluran meluap ke permukaan jalan.
5.      Kerusakan saluran yang disebabkan penggalian-penggalian pipa.
Upaya-upaya yang harus dilakukan dalam pembenahan saluran drainase, antara lain:
1.      Mengubah saluran terbuka menjadi saluran tertutup
Pemampatan saluran drainase adalah salah satu faktor yang membuat air di dalam saluran meluap. Pemampatan tersebut disebabkan oleh sampah-sampah yang dibuang oleh masyarakat. Untuk mengatasi hal itu maka saluran terbuka harus diganti dengan saluran tertutup. Sehingga kemungkinan terjadinya pemampatan pada saluran relatif kecil. Namun harus diperhatikan juga jumlah lubang penyalur air dari jalan ke saluran. Sehingga tidak terjadi genangan air. Salah satu solusinya adalah dengan membuat lubang-lubang kecil di penutup saluran.
2.      Menambah kedalaman saluran drainase
Intensitas curah hujan yang tinggi dalam waktu yang lama membuat volume air melebihi daya tampung saluran. Hal itu membuat air menggenang di jalan-jalan sebelum mengalir di saluran drainase. Genangan tersebut lambat laun akan merusak bangunan infrastruktur lain. Untuk menghindarinya, kedalaman saluran drainase harus ditambah hingga volume antara air dan saluran drainase sama. Sehingga air tidak akan menggenang sebelum mengalir di permukaan.
3.      Membuat peraturan yang tegas tentang penggalian di saluran drainase.
Banyaknya penggalian-penggalian tanpa melakukan perbaikan setelahnya menjadi salah satu penyebab banjir. Pemerintah harus menindak tegas perbuatan-perbuatan yang tak bertanggung jawab ini. Pemerintah harus membuat undang-undang yang mengatur tentang hal ini. Jika terjadi penggalian tanpa memperbaiki saluran setelahnya, maka pemerintah harus memberi sanksi berupa denda.

4.1.1.      Pembuatan Kolam Retensi
Kolam retensi adalah sebuah lubang hasil pengerukan yang digunakan sebagai tempat penampungan air sementara. Kolam retensi merupakan salah satu penanggulangan banjir yang populer sekarang. Namun terdapat sebuah kendala dalam penerpannya yaitu lahan yang akan digunakan. Kota-kota besar yang sangat memerlukan kolam retensi selalu terbentur dengan permasalahan lahan ini. Hal ini membuat pemerintah harus benar-benar memperhatikan ketepatan lokasi perencanaan, agar kolam retensi yang sedikit tersebut dapat memaksimalkan fungsinya guna mendapat manfaat yang besar.
Kedalaman kolam retensi idealnya 5 meter. Kedalaman kolam retensi sangat berpengaruh dengan manfaat yang diberikannya, karena hal ini berhubungan langsung dengan daya tampungnya. Penulis menyarankan kolam retensi tersebut dilengkapi juga dengan pompa otomatis. Sehingga ketika volume air melebihi daya tampung kolam, air tersebut dapat langsung di alirkan ke sungai dan tidak terjadi peluapan air di kolam.
Fungsi-fungsi kolam retensi, antara lain:
·         Sebagai upaya penanggulangan banjir.
·         Sebagai resapan air menggantikan rawa yang semakin berkurang.
·         Sebagai upaya peningkatan infiltrasi air permukaan.
·         Sebagai taman kota.

4.1.1.      Jaringan Kerja Sistem Drainase
Jaringan kerja:
1.      Air-air hujan jatuh ke permukaan tanah dan meresap melalui biopori. Air meresap melalui pori-pori tanah yang terbentuk dari aktivitas hewan tanah.
2.      Ketika volume air hujan yang jatuh ke permukaan tanah melebihi daya serap biopori, maka air-air hujan tersebut dialirkan melalui jaringan yang telah dibuat ke sumur-sumur resapan.
3.      Air hujan terus meresap hingga volumenya melebihi daya tampung sumur resapan. Kemudian air di alirkan ke saluran drainase.
4.      Namun, air tersebut di hadang oleh biopori-biopori yang dibuat di permukaan saluran sebelum air tersebut dialirkan. Kemudian barulah air mengalir di saluran-saluran menuju tempat penampungan, kolam retensi.
5.      Air dari saluran ditampung di kolam retensi. Ketika intesitas hujan terus meningkat dan membuat volume air melebihi batas maksimal, maka pompa secara otomatis mengalirkan air tersebut ke sungai-sungai yang sudah ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan.

4.2.      Pendekatan Non-struktural
Pendekatan non-struktural merupakan langkah yang paling sulit dilakukan karena melibatkan banyak orang. Hasil yang ingin dicapai dari langkah ini adalah kesadaran diri  masyarakat tentang lingkungan. Banyak upaya yang telah dilakukan mulai dari pembuatan hukum yang mengatur hal itu sampai dengan penyuluhan-penyuluhan. Namun semuanya dinilai tidak efektif. Karena kembali kepada pola pikir yang berkembang ditengah masyrakat. Pola pikir yang menganggap pihak pemerintah dan hukum adalah sebuah aturan yang mengikat dan menguntungkan pemerintahan sendiri. Hal ini membuat masyarakat tidak mau mematuhi hukum walaupun untuk kebaikan masyarakat sendiri.
Seperti seorang ayah yang ingin mengajarkan anaknya sesuatu hal yang baik, maka sang ayah tersebut harus menjadi figur yang bisa diikuti dalam belajar hal baik tersebut. Begitu juga pemerintah sebagai orang tua negeri ini harus menerapkan hal yang sama. Sebelum pemerintah memaksa masyarakat untuk mengikuti peraturan yang dibuat, pemerintah tersebut harus terlebihh dulu menerapkannya di lingkungan sendiri. Lambat laun masyarakat akan melihat hal ini dan melakukannya dengan kemauan sendiri. Kesadaran diri seseorang tidak bisa dipaksa tumbuh oleh orang lain Sebelum pemerintah memaksa masyarakat untuk mengikuti peraturan yang dibuat, pemerintah tersebut harus terlebihh dulu menerapkannya di lingkungan sendiri. Lambat laun masyarakat akan melihat hal ini dan melakukannya dengan kemauan sendiri., melainkan seseorang tersebut harus dibuat menumbuhkannya dengan kemauannya sendiri.
Penulis membuat beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah dalam menumbuhkan kesadaran diri tersebut antara lain:
1.      Pemerintah harus menjadi teladan yang peduli lingkungan baik secara individu maupun secara kelompok. Pemerintah bisa mengadakan kerja bakti di lingkungan pemerintahan secara berkala tanpa meminta atau memaksa orang lain untuk ikut serta. Tindakan kebiasaan ini terus ditumbuh-kembangkan akan membangkitkan kepercayaan masyarakat untuk memperhatikan lingkungannya. Jadi menularkan kebiasaan baik melalui teladan seperti ini.
2.      Pemerintah harus mengembangkan dan memelihara visi lingkungan hidup tanpa menggembar-gemborkan suatu standard operating processing (SOP). Pemberian masukan yang selaras dengan struktur dan sistem yang ada dalam masyarakat adalah cara yang tepat. Hal ini dilakukan untuk diproses dalam pengembangan dan pengelolaan lingkungan sehingga menghasilkan output yang menguntungkan masyarakat banyak. Terlebih lagi hal ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat lainnya.          
3.      Pemerintah harus memberikan solusi dan gagasan kreatif tentang lingkungan. Hal ini dilakukan agar masyarakat melakukannya dengan kemauan sendiri dikarenakan adanya manfaat yang jelas di mata orang awam. Contoh: Pemerintah memberikan seminar tentang pemanfaatan sampah secara sederhana kepada masyrakat golongan rendah. Sehingga muncul kesadaran diri guna menyelamat lingkungan juga untuk mengubah tingkat sosial.
4.      Pemerintah harus memperbanyak tempat sampah. Minimnya jumlah tempat pembuangan sampah inilah yang membuat masyarakat membuang sampah sembarang.



BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


1.1.      Kesimpulan
1.      Banjir adalah tergenang dan terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat.
2.      Faktor-faktor penyebab banjir, antara lain:
·         Faktor alam: curah hujan yang tinggi yang dipengaruhi oleh perubahan iklim.
·         Faktor campur tangan manusia: tata letak kota yang mengabaikan keseimbangan alam, kurangnya lahan resapan air, kegagalan system drainase dan kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungan.
3.      Pembangunan struktural dan non-struktural harus berjalan dengan seimbang. Pemerintah dan masyarakat harus bersama membuat perubahan. Diawali dengan mengubah perilaku dan menumbuhkan kesadaran diri akan kebersihan. Dilanjutkan dengan pembangunan struktural yang melingkupi:
·         Pembuatan Biopori (pemerintah dan masyarakat).
·         Pembuatan sumur resapan (pemerintah dan masyarakat)
·         Pembenahan sistem drainase (pemerintah)
·         Pembuatan kolam retensi dan penerapan pompa potomatis (pemerintah).

1.2.      Rekomendasi
1.      Perencana harus memperhatikan kontur-kontur tanah dan daerah aliran sungai sebelum merencanakan sistem drainase.
2.      Perencana harus memperhatikan keseimbangan alam ketika merencanakan suatu pembangunan sistem drainase. Sehingga tidak akan memberikan dampak yang negatif di kemudian hari.
3.      Perencana harus memperhatikan curah hujan ketika merencana volume saluran, sumur resapan dan kolam retensi.



Karya ilmiah ini merupakan karya ilmiah yang dibuat oleh saudara Alphanimo Buchika, Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Sriwijaya dalam pemilihan Mahasiswa Berprestasi  (MAWAPRES) Tahun 2010. 
Penyusunan format dalam posting ini sepenuhnya dibuat oleh admin andykasipil.blogspot.com. Kami juga menyertakan file Karya Ilmiah ini dalam format PDF. Untuk mendownload silahkan klik kata download yang terdapat di bawah ini.

DOWNLOAD

password : andykasipil.blogspot.com



11 komentar:

  1. thx..
    berkat ini w selamat pada tugas w..
    (:
    ini sngt mmbantu ><

    BalasHapus
  2. wah komplet artikelnya yah...

    ditunggu kunjungan baliknya koleksi dokumentasi

    BalasHapus
  3. hebat banget nih penelitiannya jadi w selamet dari tugas

    BalasHapus
    Balasan
    1. THx juga... semoga menjadi pembelajaran buat kita semua.

      Hapus
  4. bagus :). tapi, kurang lngkap:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih.. mohon masukkannya yang membangun untuk memperbaiki dan demi kesempurnaan yang akan datang

      Hapus
  5. Bagus sekali infonya n tingkatkan lagi teknologi terapannya, supaya lebih beermanfaat untuk Indonesia. Thx.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih. semangat membuat Indonesia lebih baik

      Hapus