SELAMAT DATANG DI -- www.andykasipil.blogspot.com -- BERBAGI SEPUTAR ILMU TEKNIK SIPIL
Tampilkan postingan dengan label KARYA ILMIAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KARYA ILMIAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Januari 2013

Laporan Survey Permasalahan Jalan



Kerusakan jalan yang terjadi di berbagai daerah saat ini merupakan permasalah yang sangat kompleks dan kerugian yang diderita sungguh besar terutama bagi pengguna jalan, seperti terjadinya waktu tempuh yang lama, kemacetan, kecelakaan lalu-lintas, dan lain-lain. Kerugian secara individu tersebut akan menjadi akumulasi kerugian ekonomi global bagi daerah tersebut.
 Secara umum penyebab kerusakan jalan ada berbagai sebab yakni umur rencana jalan yang telah dilewati, genangan air pada permukaan jalan yang tidak dapat mengalir akibat drainase yang kurang baik, beban lalu lintas berulang yang berebihan (overloaded) yang menyebabkan umur pakai jalan lebih pendek dari perencanaan. Perencanaan yang tidak tepat, pengawasaan yang kurang baik dan pelaksanaan yang tidak sesuai dengan rencana yang ada. Selain itu minimnya biaya pemeliharaan, keterlambatan pengeluaran anggaran serta prioritas penanganan yang kurang tepat juga menjadi penyebab. 

Rabu, 04 April 2012

Kumpulan Laporan Akhir Mahasiswa Diploma

Laporan akhir merupakan tugas atau merupakan syarat untuk menyelesaikan pendidikan gelar Diploma III. Laporan akhir bisa berupa Desain Rencana, Penelitian ataupun Analisis.

Untuk menyelesaikan gelar Diploma III maka Laporan akhir merupakan syarat mutlaknya seperti halnya Skripsi untuk menyelesaikan gelar Strata 1 di Perguruan Tinggi.

Laporan akhir untuk syarat kelulusan di Politeknik Negeri biasanya dikerjakan berkelompok dan mempunyai dosen pembimbing sejumlah 2 orang. Laporan akhir ini disusun ketika mahasiswa yang menempuh program Diploma 3 ini menginjak semester 6.



Rabu, 14 Maret 2012

Istilah dan Definisi dalam Ilmu Teknik Sipil


Dalam dunia Teknik Sipil banyak sekali ditemukan istilah-istilah yang harus kita mengerti.
Mari para blogger, kita simak satu-persatu.

Adukan
Campuran antara agregat halus dan semen portland (atau jenis semen lain) dengan air.
 
Agregat
Material granular : pasir, kerikil, batu pecah dll yang dipakai bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton atau adukan semen hidrolik.
 

Sabtu, 15 Oktober 2011

Karya Ilmiah Meminimalisir Pemanasan Global dengan Atap Hijau




BAB I
PENDAHULUAN


1.1.      Latar Belakang
Memasuki peradaban yang modern saat ini, kemajuan teknologi di berbagai bidang menunjukkan prospek yang mengagumkan. Para ahli dari jaman dulu berlomba-lomba mencari dan menciptakan hal yang baru demi memudahkan kerja manusia. Alhasil, sekarang manusia tidak lagi terhalang dengan batas ruang dan waktu. Manusia telah merubah cara kerja yang dulu konvensional sekarang menjadi modern. Industri-industri dari yang kecil hingga yang berskala besar beroprasi setiap harinya. Hal ini tentu menjadi salah satu pemicu terjadinya pemanasan global yang menjadi pembicaraan hangat belakangan ini.
Salah satu dampak revolusi industri yang telah terjadi dan masih terus berlanjut pada masa sekarang dalam kehidupan dan peradaban manusia adalah dampaknya bagi lingkungan yang ada di sekitar manusia itu sendiri. Ekspansi usaha yang dilakukan oleh para pelaku industri seperti pembangunan pabrik-pabrik dan pembuatan produksi dengan kapasitas besar dengan mengesampingkan perhatian terhadap dampaknya bagi lingkungan secara perlahan namun pasti telah mengakibatkan kelalaian yang pada akhirnya akan merugikan lingkungan tempat tinggal manusia serta manusia dan kehidupannya.
Berbagai permasalahan lingkungan global dan isu keberlanjutan (sustainabilityissue) yang dalam dua dekade terakhir marak dibicarakan dalam forum-forum internasional telah berimplikasi luas dalam banyak bidang kehidupan, tak terkecualibagi paradigma pembangunan kota (Roychansyah, 2006). Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Korea, dan negara Skandinavia di kawasan Eropa telah melakukan pembangunan kota dengan menitik beratkan pada aspek keberlanjutan (sustainability)
sejak dua dasawarsa terakhir. Saat ini telah berkembang banyak paradigma dan model pembangunan kota yang menghendaki terciptanya kota berkelanjutan (sustainable city).Beberapa diantaranya adalah paradigma kota kompak (compact city), kota sehat(healthy city), dan  kota ekologis atau kota hijau (green city). Tampak di sini bahwa ketiga paradigma tersebut menghendaki substansi keberlanjutan sebagai suatu landasan ideal  bagi pembangunan kota saat ini dan masa mendatang.
Lahan  hijau yang semula sebagai cadangan air dan penangkal polusi kini telah beralih fungsi. Lahan hijau yang dahulu hutan pepohonan kini telah berubah menjadi belantara beton yang dianggap menjadi kemajuan suatu kota. Berbagai ekosistem yang bergantung dengan  pepohonan harus mulai mencari tempat baru atau lebih parahnya punah karena alih fungsi lahan.
Perlu adanya tindakan  nyata yang dilakukan manusia demi meminimalisir dampak pemanasan global bagi bumi. Jika terus dibiarkan bukan tidak mungkin akan memusnahkan ekosistem yang hidup dipermukaan bumi ini. Perlu adanya kesadaran dari setiap individu guna meminimalisir pemanasan global yang lambat laun namun pasti akan berdampak buruk bagi lingkungan. Lakukan perubahan kecil karena dimulai dari kecillah perubahan besar akan terwujud.

1.2.      Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, didapat bahwa pemansan global tidak dapat dihindari lagi karena lahan hijau telah beralih fungsi. Didapat sebuah pertanyaan besar “Bagaimana cara meminimalisir pemanasan global dengan cara memanfaatkan atap bangunan sebagai lahan hijau?” Tulisan inilah jawaban yang dianggap penulis tepat untuk pertanyaan tersebut. Langkah-langkah yang akan dibahas dalam tulisan ini guna menjadi solusi yang tepat, antara lain:

1.3.      Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dan manfaat yang diharapkan dari upaya-upaya yang dilakukan dalam meminimalisir pemanasan global dalam tulisan ini, antara lain:
1.      Meminimalisir dampak pemanasan global tehadap bumi
2.      Menjadikan habitat bagi ekosistem burung
3.      Mengurangi polusi udara di perkotaan
4.      Meningkatkan isolasi hidro dan termal bangunan
5.      Menjadikan sumber oksigen dan udara segar di perkotaan

Kamis, 06 Oktober 2011

Karya Tulis Kontruksi Indonesia

MENILIK PELUANG PASAR KONTRUKSI DALAM DAN LUAR NEGERI DEMI MENINGKATKAN DAYA SAING NASIONAL




BAB I
PENDAHULUAN


1.1.      Latar Belakang
          Dengan diterapkannya sistem pasar bebas atau liberalisasi perdagangan dan sesuai dengan UU jasa kontruksi bahwa badan usaha maupun pekerja asing tidak dihalangi untuk bekerja di Indonesia. Hal ini menimbulkan tantangan besar bagi pelaku jasa kontruksi nasional. Apalagi bagi pelaku jasa kontruksi yang berskala kecil yang tidak cukup memiliki daya saing. Kesempatan atau peluang kontruksi yang adapun semakin sempit ketika para pelaku jasa kontruksi asing gencar menancapkan investasinya di Indonesia.
          Semakin sempitnya peluang jasa kontruksi di Indonesia memaksa pelaku kontruksi nasional harus mampu mencari peluang keluar. Apalagi investasi asing maupun pembiayaan dari luar negeri yang semakin deras dan pada akhirnya segera terlihat bahwa usaha kontruksi nasional sangat bergantung kepada pasar kontruksi yang dibiayai dari dana pemerintah. Tidak jelasnya persyaratan keahlian dan usaha menyebabkan seseorang dengan mudah untuk mendirikan badan usaha dan mengaku ahli dibidang kontruksi. Hal ini yang menyebabkan jasa kontruksi nasional tidak dapat menguasai sepenuhnya peluang pasar kontruksi baik didalam maupun luar negeri apalagi yang menerapkan teknologi tinggi.
          Menurut Undang-Undang No 18 Tahun 1999 tentang jasa kontruksi telah membahas peran vital dalam pembangunan dan menciptakan bangunan fisik yang berfungsi mendorong tumbuh kembangnya sosial ekonomi, maupun mendorong tumbuh dan berkembangnya industry barang maupun jasa. Industri jasa konstruksi merupakan salah satu sektor yang kontribusinya pada perekonomian sangat besar. Secara nasional, sumbangan sektor konstruksi terhadap PDB sekitar 6% (AsiaConstruct 2004). Namun sangat menyedihkan dengan kondisi jasa kontruksi nasional saat ini bahwa 60 % pasar jasa kontruksi nasional dikuasi oleh asing padahal jumlah mereka hanya 10 %. Pelaku jasa kontruksi nasional yang jumlahnya 90 %  hanya menikmati 40 % dari total potensi pasar dengan total kapitalisasi mencapai 170 triliun ( data 2009 ). Untuk itu para pelaku jasa kontruksi nasional harus dipecut dengan segala usaha agar dapat menjadi tuan rumah pelaku kontruksi di negeri sendiri dan mempunyai daya saing ke luar negeri.

1.2.      Perumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang diatas, didapat bahwa salah satu permasalahan kontruksi nasional adalah berkurangnya peluang  pangsa pasar kontuksi karena diterapkannya liberalisasi perdagangan. Maka didapat sebuah pertanyaan besar yaitu  “Bagaimana peluang pasar kontruksi di dalam dan di luar negeri ?” Tulisan inilah jawaban yang dianggap penulis tepat untuk pertanyaan tersebut. Langkah-langkah yang akan dibahas dalam tulisan ini guna menjadi solusi yang tepat, antara lain:
1.      Menilik peluang pasar kontruksi di dalam dan di luar negeri
2.      Hal yang perlu disiapkan guna mendapatkan peluang pasar kontruksi

1.3.      Tujuan dan Manfaat
          Adapun tujuan dan manfaat yang diharapkan dari upaya-upaya yang dilakukan  dalam tulisan ini, antara lain:
1.      Mengetahui peluang pasar kontruksi di dalam maupun luar negeri
2.      Mengetahui apasaja yang diperlukan guna mendapatkan peluang pasar kontruksi
3.      Menciptakan pelaku jasa kontruksi yang lebih kompetitif dan cerdas
4.      Meningkatkan daya saing nasional

Jumat, 23 September 2011

Karya Ilmiah tentang Zonasi Wilayah di Perkotaan


TINJAUAN PENATAAN ZONASI WILAYAH YANG KURANG BAIK 
DI KOTA PALEMBANG





BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dewasa ini pembangunan infrastruktur maupun gedung pencakar langit perkembanganya sangat pesat diberbagai wilayah diseluruh dunia.  Indonesia sebagai negara berkembang saat ini tengah melakukan pembangunan sarana-sarana dan berbagai fasilitas umum disegala bidang untuk meningkatkan taraf hidup bagi seluruh rakyat.
Kota merupakan lingkungan binaan yang terus tumbuh dan berkembang sehingga
membutuhkan suatu kebijakan terhadap perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian ruangnya. Saat ini, persoalan tata ruang seringkali muncul menjadi topik pemberitaan karena dianggap mempunyai peran sentral terhadap terjadinya berbagai kerusakan lingkungan di kawasan perkotaan.

Bertambahnya jumlah penduduk kota menyebabkan pesatnya perkembangan kota, sekaligus menyebabkan bertambahnya jumlah permukiman. Alih fungsi lahan menjadi permukiman tersebut mengakibatkan kurang baiknya penataan kota yang biasanya menjadi masalah  utama di setiap kota-kota besar.

Pergeseran fungsi yang terjadi di kawasan perkotaan dan pinggiran adalah lahan yang tadinya diperuntukkan sebagai kawasan hutan, daerah resapan air dan pertanian, berubah fungsi menjadi kawasan komersial. Adanya fenomena semakin berkurangnya daerah resapan air pada daerah perkotaan memberikan konsekwensi logis bahwa semakin besar perubahan penggunaan daerah resapan air menjadi penggunaan perkotaan (non-agraris) akan memancing terjadinya penyimpangan perubahan pemanfaatan lahan oleh kegiatan komersial yang tidak sesuai kebijakan yang ada, dan menyebabkan pengurangan ruang terbuka hijau. Akumulasi semua kegiatan tersebut yakni banjir, erosi, dan penurunan kualitas dan kuantitas air. Persoalan tersebut terjadi karena sampai saat ini belum ada pengelolaan air secara terpadu melalui perancangan kota yang dikenal dengan water sensitive urban design.

Hasil studi pada kawasan perumahan menunjukkan bahwa penerapan water sensitive urban design harus mempertimbangkan aspek geografis, topografi, geologi, jenis tanah, iklim, cuaca, infrastruktur, ruang terbuka, guna lahan, dan sosial ekonomi sedangkan komponen yang diatur yakni internal kapling yang terdiri dari atap bangunan, talang air, saluran air hujan, halaman rumah, dan sumur resapan atau biopori, serta eksternal kapling seperti drainase, ruang terbuka, karakteristik sungai, sempadan sungai, jalan, sirkulasi kendaraan dan ruang pejalan kaki.


1.2.      Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, didapat sebuah pertanyaan besar “Bagaimanakah cara menanggulangi dampak yang ditimbulkan dari penataan zonasi wilayah yang kurang baik?” Tulisan inilah jawaban yang dianggap penulis tepat untuk pertanyaan tersebut. Langkah-langkah yang akan dibahas dalam tulisan ini guna menjadi solusi yang tepat, antara lain:
Ø  Pembuatan Lubang Pori sebagai solusi yang paling sederhana
Ø  Manfaat Pembuatan Lubang Pori
Ø  Teknik Pembuatan Lubang Pori

1.3.      Tujuan Penulisan
Tujuan utama mengangkat judul “Tinjauan Penataan Zonasi Wilayah Yang Kurang Baik di Kota Palembang” adalah untuk meninjau dan membahas lebih lanjut bagaimana meminimalisir dampak negatif kurangnya penataan zonasi wilayah terhadap berkurangnya daerah resapan air.

1.4.      Pembatasan Masalah
Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis membatasi objek penulisan ini yaitu Tinjauan Pembuatan Lubang Pori dihalaman rumah masyarakat guna meminimalisir semakin berkurangnya daerah resapan air.


1.5.      Manfaat
Manfaat penulisan ini yaitu memberikan gambaran mengenai adanya penyempitan area resapan air akibat alih fungsi lahan yang semakin banyak terjadi di kota Palembang.

Senin, 19 September 2011

Karya Ilmiah Penanggulangan Bencana Banjir


PENANGGULANGAN BANJIR DENGAN CARA PEMBANGUNAN STRUKTURAL 
DAN NON-STRUKTURAL



BAB I
PENDAHULUAN


1.1.      Latar Belakang
Indonesia adalah sebuah negara perairan dengan ribuan sungai dan  ratusan laut di dalamnya. Lebih dari 500 sungai tersebut berpotensi besar menimbulkan banjir. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi negara yang sangat rawan banjir. Namun pada dasarnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, yaitu: peristiwa alam, kerusakan sistem drainase dan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia.
Banjir tidak hanya memberikan dampak yang buruk pada lingkungan, tapi juga terhadap kesehatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Terlebih lagi banjir menelan banyak korban jiwa dan menghancurkan banyak fasilitas umum. Masyarakat dan pemerintah mendapat kerugian besar atas bencana ini. Masalah ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Pencegahan-pencegahan harus segera dilakukan sebelum masalah ini menyebabkan kerugian lain yang lebih besar. Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama melakukan pencegahan dini. Tidak cukup dengan perbaikan struktural saja, perbaikan non-struktural pun harus dilakukan. Keduanya harus dilakukan secara seimbang dan saling melengkapi. Hal inilah yang membuat upaya-upaya pemerintah dalam penganggulangan banjir terus menuai kritik, karena tebukti gagal. Selama ini pemerintah hanya terus mengutamakan pembangunan struktural saja tanpa memperdulikan pembangunan non-struktural. Pemerintah juga harus melakukan pendekatan non-struktural. Karena kedua pendekatan tersebut harus berjalan dengan seimbang.
Pemerintah harus melakukan pendekatan struktural seperti pembenahan saluran-saluran permukaan dan pembenahan kolam-kolam retensi yang tidak tidak berfungsi secara maksimal. Sedangkan masyarakat harus mulai dari perbaikan moral dan menumbuhkan kesadaran diri sendiri akan lingkungan. Mulai dari menjaga kebersihan, membuat resapan dari limbah rumah tangga dan membuat sumur resapan kecil. Hal-hal kecil inilah yang akan membuat perubahan besar. Lingkungan akan kembali seperti dulu jika langkah-langkah ini dilaksanakan. Satu kemenangan pun bisa kita dapatkan karena telah berhasil membuat sebuah perubahan.

1.2.      Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, didapat bahwa pembangunan struktural dan non-struktural harus berjalan seimbang dalam menanggulangi banjir. Didapat sebuah pertanyaan besar “Bagaimana cara mencegah banjir dengan cara pembangunan fisik dan non fisik?” Tulisan inilah jawaban yang dianggap penulis tepat untuk pertanyaan tersebut. Langkah-langkah yang akan dibahas dalam tulisan ini guna menjadi solusi yang tepat, antara lain:
1.      Pembuatan Biopori, komposisi, fungsi dan penggunaannya.
2.      Pembuatan Sumur Resapan, skema serta penerapannya.
3.      Pembenahan saluran-saluran permukaan
4.      Pembuatan Kolam Retensi dan fungsinya.
5.      Mengubah prilaku, pola pikir serta budaya masyarakat.

Senin, 12 September 2011

Sayembara RTH Se Kota SUMSEL

alhamdullilah sobat.... kami telah menyelesaikan semuanya untuk mengikuti lomba sayembara RTH ( Ruang Terbuka Hijau ) ...



kami terdiri dari dua orang.. saya dan Rafijrin anak semester 5 transport.

Lokasi tempat pembuatan RTH yang kami pilih di 
Kolam Retensi Seduduk Putih ± 2,3 Ha Kelurahan Pipa Reja


kemarin ( sabtu, 22 Oktober 2011) kami telah menyerahkan berkas.. aku merasa lega, karena beban berkurang satu.

dibawah ini saya beri tahukan apa saja yang dilampirkan dalam pengisian berkas.