PENANGGULANGAN BANJIR DENGAN CARA PEMBANGUNAN STRUKTURAL
DAN NON-STRUKTURAL
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Indonesia adalah sebuah negara perairan dengan
ribuan sungai dan ratusan laut di
dalamnya. Lebih dari 500 sungai tersebut berpotensi besar menimbulkan banjir.
Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi negara yang sangat rawan banjir. Namun
pada dasarnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, yaitu:
peristiwa alam, kerusakan sistem drainase dan degradasi lingkungan yang
disebabkan oleh ulah manusia.
Banjir tidak hanya memberikan dampak yang buruk
pada lingkungan, tapi juga terhadap kesehatan masyarakat dan pertumbuhan
ekonomi. Terlebih lagi banjir
menelan banyak korban jiwa dan menghancurkan banyak fasilitas umum. Masyarakat
dan pemerintah mendapat kerugian besar atas bencana ini. Masalah ini tidak bisa
dibiarkan terus berlanjut. Pencegahan-pencegahan harus segera dilakukan sebelum
masalah ini menyebabkan kerugian lain yang lebih besar. Pemerintah dan
masyarakat harus bersama-sama melakukan pencegahan dini. Tidak cukup dengan
perbaikan struktural saja, perbaikan non-struktural pun harus dilakukan.
Keduanya harus dilakukan secara seimbang dan saling melengkapi. Hal inilah yang
membuat upaya-upaya pemerintah dalam penganggulangan banjir terus menuai kritik,
karena tebukti gagal. Selama ini pemerintah hanya terus mengutamakan
pembangunan struktural saja tanpa memperdulikan pembangunan non-struktural. Pemerintah juga harus melakukan pendekatan
non-struktural. Karena kedua pendekatan tersebut harus berjalan dengan
seimbang.
Pemerintah harus melakukan
pendekatan struktural seperti pembenahan saluran-saluran permukaan dan
pembenahan kolam-kolam retensi yang tidak tidak berfungsi secara maksimal.
Sedangkan masyarakat harus mulai dari perbaikan moral dan menumbuhkan kesadaran
diri sendiri akan lingkungan. Mulai dari menjaga kebersihan, membuat resapan
dari limbah rumah tangga dan membuat sumur resapan kecil. Hal-hal kecil inilah
yang akan membuat perubahan besar. Lingkungan akan kembali seperti dulu jika
langkah-langkah ini dilaksanakan. Satu kemenangan pun bisa kita dapatkan karena
telah berhasil membuat sebuah perubahan.
1.2.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas,
didapat bahwa pembangunan struktural dan non-struktural harus berjalan seimbang
dalam menanggulangi banjir. Didapat sebuah pertanyaan besar “Bagaimana cara
mencegah banjir dengan cara pembangunan fisik dan non fisik?” Tulisan inilah
jawaban yang dianggap penulis tepat untuk pertanyaan tersebut. Langkah-langkah
yang akan dibahas dalam tulisan ini guna menjadi solusi yang tepat, antara
lain:
1. Pembuatan Biopori, komposisi, fungsi dan
penggunaannya.
2. Pembuatan Sumur Resapan, skema serta
penerapannya.
3. Pembenahan saluran-saluran permukaan
4. Pembuatan Kolam Retensi dan fungsinya.
5. Mengubah prilaku, pola pikir serta budaya
masyarakat.
